Rabu, 25 Juli 2012

Asal Usul Celana Dalam Di Dunia

Pada awalnya underwear udah
dikenal pada zaman Pharaoh
(bahasa kitanya: Fir’aun).
Manusia pada zaman sebelum
masehi dulu udah mulai berpikir
untuk menutupi sebagian tubuh
yang ada dibawah pusar untuk
menjaga kebersihan. Terutama
dikalangan wanita. Para budak
Fir’aun menutup kemaluannya
dengan kain panjang yang
dilipat-lipat menutupi bagian
selangkangan sampai ke
belakang menutupi pantat.
Tujuannya untuk melindungi
bagian penting itu supaya tidak
mengalami lecet-lecet. Sementara,
para bangsawan waktu itu
hanya cukup memakai kain tipis
(cawat) yang dikencangkan
dengan sabuk emas.
Pada abad ke-18, di Inggris
orang-orang ang pertama kali
memakai underwear adalah
kaum bangsawan terutama para
istri** raja. Bentuk underwear
pada waktu itu bukan yang kita
pakai sehari-hari, mereka masih
overall, hanya memakai sehelai
kain tipis yang melindungi kulit
dari kain yang kasar yang
terbuat dari cotton wool yang
pada waktu itu masih tergolong
mahal.
Setelah 3000 tahun berlalu, sejak
kejayaan kerajaan Fir’aun
runtuh, kerajaan ini hanya
menyisakan tulisan
haerogryphliz, kuburan** kuno
dan tentu saja ide brilian yang
nantinya berevolusi jadi “kolor”
atau “kancut” yang kita pake
sekarang ini. Dengan adanya
penemuan yang dipatenkan
pada tahun 1793 oleh Elias
Howe, dan juga dukungan
revolusi industri, pembuatan
underwear makin pesat di
produksi saat itu. Saat
perkembangan makin pesat,
underwear yang dipakai lelaki
pada umumnya memiliki bentuk
yang menutupi seluruh badan
atau disebut skivvies, sehingga
disebut mens second skin.
Underwear wanita yang paling
terkenal dinamakan lingerie,
yang juga berfungsi sebagai
korset untuk menyusutkan perut,
nggak sedikit juga dipakai para
wanita agar terlihat langsing
dibagian perut. Kurang lebih saat
ini yang biasa dipakai oleh
bintang bokep. Ya, seperti itu.
Tetapi, ketika perang dunia
pertama para tentara sekutu
komplain gara-gara skivvies yang
dipakai cepat bikin infeksi kulit.
Sementara, marinir angkatan laut
Amerika juga protes karena
skivvies sering bikin lecet “pistol
dan 2 pelurunya” ketika dipakai
di medan perang. Keluhan itu di
dengar oleh pemerintah.
Akhirnya, paman Sam segera
membuatkan kancut khusus
ARMY dengan bahan katun
berwarna putih khusus untuk
prajuritnya. Lalu dibuat juga
waistband yang elastis. Yup, para
tentara pada perang dunia
pertama ini sangat bergantung
pada kancut selain sepatu tebal
dan helm yang berat. Kancut
menjadi idola para tentara di
medan perang. Namun gara2
kancut warna putih itu,
mengundang para Nazi dari
jerman menyerukan “Target
White underwear!” Melihat,
kancut putih jadi sasaran musuh,
tentara Amerika segera
merubahnya dengan corak
kancut menjadi warna loreng
yang berbaur dengan warna
hutan. Dan divariasikan sesuai
dengan aktivitas dan keperluan
masing**. Pada waktu PD ke-1
ini udah memakai kancut brief
atau yang berbentuk segitiga.
Sekutu juga sudah memakai
Boxer, kancut yang serupa
dengan celana pendek dengan
motif loreng harimau sampai
polka dot.
Why underwear is become a
very significant things
Tetapi pada tahun 80-an
penggunaan kancut di Amerika
pernah ditentang oleh
sekelompok kaum Hippies.
Mereka beranggapan bahwa
penggunaan kancut pada semua
kaum pria dan wanita sangat
tidak natural dan juga
mengekang kebebasan ekspresi
diri. Mereka melakukan protes
dengan aksinya yang cukup
controversial. Kaum Hippies
membakar seluruh celana dalam
atau bra yang mereka ambil
secara paksa dari took** pakaian
maupun dari orang** yang
memakainya.
Di Jepang, 12% kejahatan
pencurian adalah mencuri
pakaian dalam wanita. Di
Indonesia sendiri pada paska
tragedy kerusuhan 14 Mei 1998
lalu ketika itu banyak terjadi
pemerkosaan di kalangan
wanita, pernah dijual pakaian
dalam yang dapat melindungi
para wanita dari lelaki yang usil.
Kancut itu dibuat dennnnnngan
bahan baja dan kunci kombinasi
nomor. Tujuannya untuk
menjamin “si otong” nggak
bakal dating kalo nggak
diundang.

0 komentar:

Posting Komentar

copyright © 2012-2012 design by Chandra Shi Bezzo. Diberdayakan oleh Blogger.